Bersama Masyarakat

Bersama Masyarakat Sigi

BERSAMA PMI

PMI Kabupaten Sigi.

Silaturrahim

Silaturrahim dengan Masyrakat.

KEBUN JAGUNG

Jadi PETANI, Kita Bisa ...

SEMANGAT

Dukungan Masyarakat dan Partai adalah Semangat untuk Menuju Kesuksesan.

Sabtu, 28 Mei 2022

Sejarah Terusan SWEZ

 


Terusan Suez (bahasa Arab: قناة السويس, Qanā al-Suways), di sebelah barat Semenanjung Sinai, merupakan terusan kapal sepanjang 193 km yang terletak di Mesir, menghubungkan Pelabuhan Said (Būr Sa'īd) di Laut Tengah dengan Suez (al-Suways) di Laut Merah.

Linant de Bellefonds, penjelajah sekaligus insinyur asal Prancis, sudah mengidekan pembuatan jalur perairan penghubung Laut Mediterania dengan Laut Merah sejak 1830-an. Memasuki 1850-an, Kekaisaran Ottoman yang kala itu menguasai Mesir memberikan izin pembangunan kanal.

Orang yang dipercaya menjalankan proyek tersebut bernama Ferdinand de Lesseps, Diplomat Prancis. Pertama kali, pembangunan diadakan mulai 1859. Selama 10 tahun, diadakan penggalian tanah yang melibatkan satu juta lima ratus orang pekerja. Namun, di antara mereka banyak yang diklaim sebagai budak lantaran keberatan dalam penanganan biaya.

Tepat pada 17 November 1869, Terusan Suez resmi dibuka oleh Ismail Pasha, Khedive wilayah Mesir dan Sudan. Situs Britannica menyebut bahwa orang ini memang punya mitra dengan Perusahaan Terusan Suez dalam pembangunan kanal.

Sementara itu, kapal pertama yang melintasi jalur tersebut adalah kapal pesiar milik kekaisaran Permaisuri Prancis, Eugenie, L’Aigle. Setelah itu, baru muncul kapal laut lain dari negara Inggris yang bernama Delta. Keduanya melewati garis Utara-Selatan. Sedangkan kapal pertama yang melewati jalur Selatan-Utara, diklaim namanya sebagai Kapal S.S. Dido.

Kala pertama kali terbentuk, kapal-kapal yang bisa lewat hanya jenis kapal uap. Hal ini disebabkan oleh sulitnya navigasi lantaran jalurnya terbilang sempit. Selain itu, wilayah Terusan Suez juga merupakan daerah yang anginnya terbilang kencang.

 

Fakta-Fakta Terusan Suez

Berikut ini beberapa fakta terkait Terusan Suez:

1. Ada Perbudakan dalam Pembangunannya

Seperti yang sudah dijelaskan, pembangunan Terusan Suez mempekerjakan 1,5 juta orang. Jumlah tersebut ternyata lebih banyak diisi oleh budak-budak. Pemicu terjadinya hal ini tentu terkait biaya.

Kala itu, investor dari Inggris, Prancis, dan Amerika, merasa keberatan dengan biaya pembangunan Terusan Suez. Oleh karena itu, perbudakan adalah solusi bagi pihaknya. Dalam proses pembuatan kanal, ada sekitar puluhan ribu pekerja yang dikatakan meninggal dunia.

2. Jalur Efektif Asia-Eropa

Terusan Suez didirikan sebagai rute terpendek yang menguhubungkan Asia dengan Eropa. Hal ini disebut lantaran Terusan Suez berhasil menyingkat waktu pelayaran sehingga kapal bisa sampai lebih cepat ke tujuan.

Sebelum didirikan Terusan Suez, kapal harus terlebih dahulu berlayar memutari daerah Tanjung Harapan yang berada di Selatan Afrika. Lantaran jalur ini dibuat, maka jalur yang jauh dan menghabiskan banyak waktu tersebut sudah bisa mendapatkan solusi efektifitasnya.

3. Konflik Sebelum dan Setelah Peresmian

Sebelum Teruzan Suez resmi dibuka, proses pembangunannya memicu konflik di daerah sekitarnya. Misalnya Mesir, kala itu sedang terjadi pergerakan pembebasan diri dari kolonialisme.

Setelah peresmian, konflik terjadi lantaran perebutan akses Terusan Suez. Seperti yang diketahui, kanal penghubung ini bisa mempersingkat waktu dan dianggap penting dalam sektor akomodasi saat itu.

Bukan hanya perdagangan, bahkan pelayaran demi kebutuhan perang pun bisa melewati jalur tersebut. Setelah persemian, terjadi beberapa konflik di daerah Terusan Suez.

Salah satunya terjadi kala Kekaisaran Ottoman menyerang Terusan Suez pada 1915 (Perang Dunia I). Saat itu, yang melindungi wilayah ini adalah Inggris. Secara resmi, kanal penghubung ini diambil Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir kala 1956.

Sejarah TERUSAN PANAMA


Terusan Panama (bahasa Spanyol: Canal de Panamá) adalah jalur air buatan sepanjang 82 kilometer (51 mil) di Panama yang menghubungkan Samudra Atlantik dengan Samudra Pasifik, melintasi Tanah Genting Panama, dan merupakan jalur perdagangan maritim. Pintu air di setiap ujungnya mengangkat kapal ke Danau Gatun, danau air tawar buatan setinggi 26 meter (85 kaki) di atas permukaan laut, yang dibuat dengan membendung Sungai Chagres dan Danau Alajuela untuk mengurangi jumlah pekerjaan penggalian yang diperlukan untuk kanal tersebut, dan kemudian menurunkan kapal-kapal di ujung yang lain. Rata-rata 200.000.000 L (52.000.000 gal AS) air tawar digunakan dalam satu kali lintasan kapal.

Jalan pintas Terusan Panama sangat mengurangi waktu bagi kapal untuk melakukan perjalanan antara Samudra Atlantik dan Pasifik, memungkinkan mereka untuk menghindari rute yang panjang dan berbahaya di sekitar ujung paling selatan Amerika Selatan melalui Selat Drake atau Selat Magellan. Ini adalah salah satu proyek rekayasa terbesar dan tersulit yang pernah dilakukan.

Rencana pembangunan terusan ini sudah mulai muncul pada tahun 1500-an namun baru dibuka pada 15 Agustus 1914. Walaupun pembangunannya dilanda berbagai masalah seperti penyakit malaria, demam kuning, bencana tanah longsor, dan kekurangan air, terusan ini telah membantu 1.000.000 kapal menyeberang sejak pembukaannya atau 12.000 kapal per tahun.

Penjelasan

Terusan Panama menghubungkan Teluk Panama di Samudra Pasifik dengan Laut Karibia di Samudra Atlantik. Terusan ini memotong dari arah barat laut - ke arah tenggara. Untuk mempermudah, otoritas terusan mengklasifikasikan lewatnya kapal dengan arah northbound (menuju utara) bagi kapal yang menuju Samudera Atlantik dan southbound (menuju selatan) bagi kapal yang menuju Samudera Pasifik. Untuk menyeberang, sebuah kapal perlu waktu 9 jam.

Di terusan panama terdapat 3 Lock, yaitu Gatun Locks, Pedro Miguel Locks dan Miraflores Locks.[1] Kapal yang datang dari arah Samudera Atlantik akan melewati Gatun Locks dan kapal diangkat 85 feet (26 meter) ke permukaan danau Gatun. Kapal kemudian melintasi danau Gatun sepanjang 37 Km (23 Mil) dan Gaillard Cut (Culebra) sepanjang 13 Km (8 Mil) hingga tiba di Pedro Miguel Locks. Sesampai di Pedro Miguel Locks, level air akan menurun sekitar 30 feet atau 9 m. Kapal kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Danau Miraflores (danau ini lebih kecil ketimbang danau Gatun pada locks pertama tadi) di mana Locks terakhir yaitu Miraflores Locks berada. Di sini kapal akan diturunkan hingga sejajar dengan tinggi permukaan dan kemudian akan kembali berlayar bebas ke laut lepas (Samudera Pasifik). Total jarak tempuh dari Gatun Locks ke Miraflorest mencapai 80 Km atau 50 Mil. Setiap memasuki Locks, kapal akan di tarik oleh semacam kereta dari sisi sisi kanal untuk menjaga posisinya.

Tahun 2007 lalu, Terusan Panama mulai diperluas. Walau masing-masing dam memiliki panjang 305 m dan lebar 33,5 m, suatu ukuran raksasa bagi kebutuhan pada tahun 1914, ukuran ini sudah tidak cocok untuk kapal-kapal tanker raksasa maupun kapal-kapal induk atau pengangkut pesawat terbesar AS masa kini. Kapal pesiar “Queen Elizabeth 2″ misalnya, saat melewati kanal, hanya terpaut 75 cm dari sisi badan kapal hingga dinding dam di kedua sisinya. Kapal tempur AS “New Jersey” menyisakan ruang tidak sampai 25 cm di kedua sisinya.

 

Sejarah

Niat untuk membuat sebuah terusan di tanah genting Panama pertama kali dicetuskan oleh Raja Charles V dari Spanyol pada tahun 1524 untuk mempermudah lewatnya kapal, terutama yang membawa emas. Walaupun sudah ada hasil survei dan rencana pada tahun 1529, keadaan politik dan teknologi di Eropa pada saat itu masih belum memungkinkan.

Setelah berbagai macam cara yang tidak melewati laut (kereta api) gagal atau dinilai kurang efektif, rencana pembangunan terusan mencuat kembali. Didorong dengan selesainya Terusan Suez, oleh Prancis di bawah pimpinan Ferdinand de Lesseps mulai membangun terusan pada 1 Januari 1880 namun terhenti karena penyakit pada tahun 1893.

Pembangunan dilanjutkan oleh Amerika Serikat di bawah pimpinan Theodore Roosevelt pada tahun 1904 setelah AS membantu Panama merdeka dari Kolombia dengan imbalan kontrol daerah terusan.[2] Pembangunan kanal oleh Amerika Serikat ini dimulai pada 4 Mei 1904. Berbagai upaya dilaksanakan untuk mengatasi masalah dan akhirnya kanal dibuka pada 15 Agustus 1914 dengan lewatnya kapal Ancon.

Terusan ini serta daerah disekitarnya dikontrol oleh Amerika Serikat sampai 31 Desember 1999 setelah Presiden AS Jimmy Carter menandatangani Traktat Torrijos-Carter pada 7 September 1977. Sekarang, terusan ini dikontrol oleh Otoritas Terusan Panama.

Menapaki Jejak Pitinggota Tanah Kaili

 

Budayawan Sulawesi Tengah, Sofyan Ing berpendapat, Pitunggota atau tujuh wilayah, adalah tujuh sub etnis dari suku kaili. Tujuh sub etnis itu, yaitu Topo (yang menggunakan bahasa) Ledo, Topo Ija, Topo Ado, Topo Unde, Topo Rai, Topo Da’a dan Topo Tara.

“Topo Ledo berasal dari pegunungan sebelah timur di atas bukit Paneki yang disebut Lando Raranggonao sekarang ini Topo Ledo bermukim di kota Palu kearah selatan samapai Kecamatan Dolo sampai dengan sungai wera di barat,” jelas Sofyan Ing.

Sedangkan menurutnya, Topo Ija pada awalnya, bermukim di sebelah utara danau lindu di lereng gunung yang disebut Leu, Siloma, Volau, Uwemalei, dan Sigi Pulu. Sekarang ini To Ija, menurutnya, bermukim di Bora, Watunonju, Oloboju dan dataran Palolo serta Sibowi.

Selain itu, Topo Ado awalnya bermukim di lereng pegunungan sebelah timur tenggara, Namun sekarang ini bermukim di sebelah selatan wilayah pemukiman Topo Ledo, kearah selatan berbatas dengan Kuala Saluki dan Kuala Tiva batas wilayah Desa Bangga. To Unde yang awalnya bermukim di lereng gunung Kangihui dan gunung Kayunaya. Sekarang ini Topo Unde umumnya bermukim di kecamatan Banawa, dan Banawa Selatan.

Topo Rai pada awalnya, bermukim di lereng gunung Pombare Basa atau Parampata. Sekarang, Topo Rai umumnya bermukim mulai dari Kecamatan Banawa Palu Utara kearah utara sampai dengan kecamatan Balaisang. Topo Tara awalnya bermukim di lereng gunung sebelah timur Kota Palu di bagian utara dari pemukiman Topo Ledo. Sekarang Topo Tara bermukim di Kecamatan Palrigi, Sausu, Sebagiam Kecamata Ampibabo, serta beberapa kelurahan di Kecamtan Palu Timur.

“Sedangkan Topo Da’a yang kita kenal dengan To Lare, tetap berdiam di sebelah barat Kota Palu dan Kecamatan Marawola. Sekarang ini tergabung dalam wilayah Kecamatan Tinembani dan Pekava,” sebut salah satu Ketua PB Akhairaat ini.

Uniknya, kata Sofyan, tujuh sub etnis ini terdapat tujuh pula pula Dewan Adat Pitu Nggota yaitu, Magau di Sigi, Galara di Banawa, Pabisara di Pulu, Baligau di Dolo, Jogugu di Dolo, Punggava di Pinombani dan Kapita di Behoa.

Kata Sofyan Ing, bahkan Sub Etnis ini mendirikan tujuh kerajaan di tanah kaili. “Yaitu, Kerajaan Pujananti di Ganti, Kerajaan Tatanga di Palu, Kerajaan Baloni di Sigi, Kerajaan Tinombani di Dombu, Kerajaan Sidiru di Sibalaya, Kerjaan Pemantoa atau Parampata di Sindue dan Kerajaan Sausu atau Parigi,” jelas Sofyan Ing.

Ia menyebutkan, tiap kerajaan melaksanakan pemerintahannya secara otonom namim tetap terikat pada posisi dan fungsi masing-masing dalam adat. Namun meskipun demikian tidak pernah terjadi peperangan anatara kerajaan. Hal ini menuruntya, karena masing-masing kerajaan patuh pada hukum adat yang mengikat.

Peta Tua INDONESIA Dan DUNIA

MANDAR Dan KAILI Hubungan Kekerabatan

LA GALIGO, Sebuah Kitab Kepercayaan Bugis

 


La Galigo ialah sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik India, Mahabarata, dan Ramayana. Juga nisbi lebih panjang daripada epik Yunani, Homerus. Sayangnya popularitas La Galigo di tanah air masih kurang dibandingkan epik India. Padahal bagi sebagian masyarakat Bugis yang menganut agama lokal, kepercayaan Tolotang, posisi La Galigo sebenarnya ialah kitab suci mereka.

 

Indonesia tak sedikit memiliki kekayaan warisan budaya tulis yang bernilai tinggai. Bukan saja bernilai historis, tak sedikit naskah tua yang juga bernilai susastra yang artistik dan bahkan sarat nilai-nilai spiritual atau keagamaan.

 

Sebutlah, salah satunya ialah La Galigo. Sering dikenal dengan nama lain, Sureq Galigo. Atau kadang juga hanya disebut Galigo. Kitab kuno berbentuk puisi ini berisi mitos penciptaan dari peradaban Bugis. Bahkan bagi sebagian masyarakat Bugis yang masih menganut agama lokal, yakni kepercayaan Tolotang, posisi La Galigo ialah kitab suci.

 

Bukan saja apa yang tertuang dalam kitab itu sering dianggap benar-benar pernah terjadi, bahkan bagi penganut agama lokal itu pembacaan La Galigo juga harus disertai ritual. Sebelum dibaca harus ada persembahan, sesaji, dupa, pemotongan ayam, atau kambing. Laiknya kitab suci bagi para pemeluk agama secara “tradisional”, merekapun yakin membaca fragmen kisah-kisah La Galigo ialah sinonin berdoa. Konon, fungsinya secara magis bisa menjadi “obat” beragam penyakit, menjadi tolak bala, dan lainnya.

 

Berbentuk puisi epik, karya ini awalnya berupa tuturan lisan. Namun memasuki paruh pertama abad 19, karya ini mulai ditulis. Berbentuk puisi tradisional Bugis atau Lontara. Komposisi bahasa penyusun puisi ini dianggap indah. Berkualitas susastra tinggi. Menariknya, tradisi pembacaan La Galigo dilakukan sembari dinyanyikan. Cara melagukan La Galigo dalam bahasa Bugis disebut laoang atau selleang. Lazimnya dilakukan dalam sebuah upacara adat. Jadi, sebenarnya bicara La Galigo, selain mewariskan tradisi tulisan juga tradisi lisan.

 

Sayangnya, sejalan pudarnya pengetahuan lokal perihal teks-teks kuno Bugis dan juga rendahnya tingkat penguasaan masyarakat atas bahasa kuno dan aksara Lontara, maka kini jadi ancaman tersendiri bagi upaya pewarisan khasanah La Galigo. Aksara Lontara Bugis atau sering disebut dengan istilah lokal ‘ukiq sulappaq eppaq’ (huruf segiempat), konon ialah turunan dari aksara Pallawa.

 

https://indonesia.go.id/assets/img/assets/1550203700_Naskah_Tua.JPG" style="height:182px; width:493px" />

 

Halaman Naskah Kuno Bugis La Galigo Sumber: www.lontaraproject.com

 

Pun mungkin karena di masa lalu proses pelestarian naskah-naskah Lontara dan La Galigo itu baik lisan maupun tulisan secara tradisional cenderung hanya dilakukan oleh keberadaan Bissu, yang mengemban fungsi kependetaan agama lokal Bugis. Sementara Bissu, sering disimplifikasikan sebagai fenomena seorang transvestite atau transgender. Implikasinya, dalam perkembangan masyarakat Bugis kontemporer, hal itu membuat posisi dan fungsi sosial dari seorang Bissu menjadi termarginalisasikan. Sejalan dengan terpinggirkannya posisi dan fungsi sosial Bissu ini, sedikit banyak turut berdampak terpinggirkannya khasanah Lontara dan La Galigo.

 

Bermaksud mengantisipasi hilangnya khasanah kuno ini, Indonesia dan Belanda berkolaborasi mengusulkan La Galigo masuk daftar World Heritage di UNESCO. Kini sejak 2011 naskah kuno La Galigo telah ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World.

 

Ini berarti semenjak 2011, kini dan juga nanti ke depan, seluruh upaya pelestarian khasanah La Galigo bukan saja hanya menjadi tanggung jawab masyarakat pewaris budaya Bugis secara ekslusif yaitu keberadaan Bissu, tapi juga harus menjadi tanggung jawab negara atau perintah selaku stake holder pengusul ke UNESCO.

 

Sejarah, Alur Narasi dan Popularitas

 

Merujuk deskripsi UNESCO, La Galigo disepakati berasal dari abad ke-14, sekalipun sebenarnya bisa jadi usianya jauh lebih tua. Menariknya, sekalipun La Galigo bukanlah teks sejarah karena aspek mitologis narasi itu terasa sangat kuat, tetapi teks ini diakui oleh banyak ilmuwan memiliki pengaruh besar pada bagaimana sejarawan melihat masa lalu peradaban Bugis. Khususnya, masyarakat Bugis di periode sebelum era masuknya Islam.

 

Ditulis dalam format puisi bahasa Bugis kuno, berupa sajak bersuku lima, naskah La Galigo menceritakan kisah asal-usul manusia. Bercorak pra-Islam dan bersifat epik-mitologis. Merujuk buku ‘Islamisasi Bugis: Kajian Sastra Atas La Galigo Versi Bottinna I La Déwata Sibawa I Wé Attaweq’ karya Andi Muhammad Akhmar (2018), struktur isi La Galigo ialah bercerita tentang mitos penciptaan dunia dan penciptaan manusia atau asal-usul manusia pertama yang mendiami dunia.

 

Tokoh utama La Galigo ialah Sawérigading, cucu Batara Guru. Cerita dimulai dari dunia yang kosong dan turunnya Batara Guru ke bumi. Alkisah, manusia pertama ini turun di daerah Luwu di utara Teluk Bone. Batara Guru, sebagai raja digantikan oleh anaknya, La Tiuleng, dan bergelar Batara Lattu'.

 

La Tiuleng atau Batara Lattu’ punya anak kembar, yakni Sawérigading dan Wé Tenriabéng. Sengaja keduanya dibesarkan terpisah. Sebagai saudara kembar mereka baru bertemu lagi saat menginjak usia dewasa. Sawérigading terpesona dan jatuh hati pada saudara kembarnya. Sawérigading pun berniat menikahi Wé Tenriabéng.

 

https://indonesia.go.id/assets/img/assets/1550204098_12121.JPG" style="height:341px; width:452px" />

 

Naskah I La Galigo asli yang ada di Museum I La Galigo Sumber: Istimewa

 

Rahasia keluarga yang selama ini disimpan pun dibeberkan. Diceritakanlah kepada Sawérigading, Wé Tenriabéng sejatinya ialah saudara kembarnya. Sementara itu, kawin saudara sedarah diyakini bakal mendatangkan bencana. Mengikuti pola tabu inces yang nisbi universal, cinta Sawérigading jelas bertempuk sebelah tangan.

 

Kasih yang tak sampai ini kemudian menghantar Sawérigading pergi merantau ke daratan China. Di sana Sawérigading bertemu putri yang berwajah sama persis dengan saudari kembarnya. Bernama Wé Cudaiq, anak seorang raja di daratan China. Setelah melewati serangkaian kisah dan peristiwa, lahirlah anak laki-laki sebagai buah cinta dan perkawinan mereka. Anak laki-laki inilah kemudian diberi nama ‘La Galigo’.

 

Sekembalinya Sawérigading dan Wé Cudaiq ke Luwuq, kerajaannya yang terdahulu, kapal yang dinahkodainya karam. Mereka berdua lantas menjadi penguasa ‘dunia bawah’. Sedangkan saudari kembarnya si-Wé Tenriabéng naik ke alam dewa atau ‘dunia atas’. Tak berselang lama setelah itu, semua manusia pertama itu dipanggil kembali pulang ke alam Dewata. Meninggalkan La Galigo dan saudara lainnya di ‘dunia tengah’ dan menjadi penguasa Luwuq.

 

Kembali merujuk Akhmar, disebutkan La Galigo menjadi teks susastra yang populer karena beberapa kekuatan atau kelebihan. Pertama, isi ceritanya terdiri puluhan episode (tereng) dengan cara penulisan yang memiliki aturan sastra yang ketat. Isinya antara lain memuat norma, konsep kehidupan, budaya, silsilah dewa-dewa, dan asal usul orang Bugis.

 

Kedua, epos La Galigo juga ditemukan dalam berbagai versi serta serpihan-serpihannya ditemukan di luar Sulawesi Selatan seperti di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Kelantan, dan bahkan Trengganu (Semenanjung Melayu), dan lain-lain. Selain itu, teks La Galigo cukup banyak tersebar di berbagai perpustakaan di negara-negara Eropa maupun Amerika.

 

Ketiga, warisan budaya Bugis kuno yang tertera di La Galigo hingga kini masih dilakukan dalam kehidupan masyarakat Bugis sehari-hari, setidaknya dalam upacara adat mereka. Sebutlah ritual mappaliliq, misalnya, yaitu upacara turun ke sawah. Juga masih terlihat tradisi massureq atau maggaligo, yaitu melagukan syair La Galigo, di Kabupaten Pangkajene, Sidenreng Rappang, Wajo, Soppeng, Barru, dan Luwu. Bahkan sekelompok masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang, yang dikenal sebagai penganut kepercayaan Tolotang, menganggap dirinya sebagai pewaris spiritual Bugis dan pengikut Sawérigading.

 

Keempat, sejalan masuknya agama Islam maka secara susastra muncul fenomena intertekstual. Ini terlihat pada La Galigo versi ‘Bottinna I La Déwata Sibawa Wé Attaweq. Unsur Islam ini mawujud sebagai bentuk formula doa berbahasa Arab, menukil ayat Alquran, dan nama-nama Asmaul Husna. Menariknya, masuknya unsur Islam tidak serta-merta menggeser kepercayaan lama, melainkan cenderung disajikan berdampingan. Dengan begitu pada cerita-cerita baru atau yang telah mendapatkan unsur-unsur baru, yaitu Islam, tetap saja bisa dikatakan bahwa naskah-naskah ini menjadi bagian dari warisan sastra La Galigo.

 

https://indonesia.go.id/assets/img/assets/1550204527_Pertemuan_Tahunan_IMF_World_Bank_2018_101018_aez_22_compressed.jpg" style="height:2699px; width:4049px" />Pementasan La Galigo di Nusa Dua, Bali. Sumber foto: Antara Foto

 

Kelima, La Galigo menjadi perhatian masyarakat dunia setelah Robert Wilson, seorang sutradara avant garde terkenal dari Amerika Serikat, membawa teks ini ke panggung teater internasional. Pertamakali dipentaskan di Singapura pada 20-23 Maret 2004. Selang dua bulan kemudian dipentaskan ke negara-negara Eropa. Bermula dari Amsterdam pada 12, 14, dan 15 Mei 2004; dilanjutkan ke Barcelona 20-23 Mei 2004; lanjut di Madrid 30 Mei-2 Juni 2004; menyusul di Lyon Perancis pada 8-10 Juni 2004; dan berakhir di Ravenna Italia pada 18-20 Juni 2004.

 

Pementasan teater La Galigo berlanjut ke negeri Paman Sam. Berlangsung di kota New York pada 13-16 Juli 2004. Dua tahun lebih berselang, La Galigo dipentaskan di Indonesia, yakni di Jakarta pada 10-12 Desember 2006. Dan barulah setelah melalang dunia hampir tujuh tahun, La Galigo dibawa pulang dan dipentaskan di tanah kelahirannya Makasar pada 23-24 April 2011. Pada tahun yang sama ini pulalah, UNESCO menetapkan La Galigo sebagai Memory of the World dalam bentuk “pusaka dokumenter” (dokumentary heritage).

 

Dan terakhir atau keenam, daya tarik lain dari La Galigo ialah ukuran keseluruhan teks tersebut sangatlah besar. Diperkirakan terdiri dari 6.000 halaman folio atau 300.000 baris puisi. UNESCO menggarisbawahi sebagai produk karya sastra yang paling produktif di dunia. Merujuk Prof Nurhayati Rahman yang menukil pendapat Kern dan Sirtjo Koolhof dikatakan, La Galigo ialah sebagai karya terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik India, yaitu Mahabarata dan Ramayana; juga lebih panjang daripada epik Yunani, yaitu Homerus. (W-1)



Sumber : DISINI

Riwayat IBNU BATUTAH (Penjelajah Dunia)

 


Ibnu Batutah atau Muhammad bin Batutah (bahasa Arab: محمد ابن بطوطة) yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati At-Tanji bin Batutah (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد بن عبد الله اللواتي الطنجي بن بطوطة) adalah seorang alim (cendekiawan) Maroko yang pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada Abad Pertengahan.[1][2] Dalam jangka waktu tiga puluh tahun, Ibnu Batutah menjelajahi sebagian besar Dunia Islam dan banyak negeri non-Muslim, termasuk Afrika Utara, Tanduk Afrika, Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Tiongkok. Menjelang akhir hayatnya, ia meriwayatkan kembali pengalaman-pengalamannya menjelajahi dunia untuk dibukukan dengan judul Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib (bahasa Arab: تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار, Tuḥfatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār),[3] yang lazim disebut Lawatan (bahasa Arab: الرحلة, Ar-Rihlah).[4] Riwayat perjalanan Ibnu Batutah menyajikan gambaran tentang peradaban Abad Pertengahan yang sampai sekarang masih dijadikan sumber rujukan.

 

Riwayat hidup

Masa muda

 

Kafilah Haji, ilustrasi karya Al-Wasiti dalam sebuah buku yang terbit pada abad ke-13 di Bagdad

Segala hal-ihwal terkait jati diri dan kehidupan pribadi Ibnu Batutah yang diketahui orang sekarang ini bersumber dari riwayat hidupnya yang termaktub dalam Ar-Rihlah. Menurut sumber ini, Ibnu Batutah adalah seorang keturunan Berber,[1] terlahir sebagai putra keluarga Ulama Fikih di Tanjah (Tangier), Maroko, pada 24 Februari 1304 (703 Hijriah), manakala Maroko diperintah oleh sultan-sultan dari Bani Marin.[5] Ia mengaku masih terhitung sebagai keturunan dari salah satu suku Berber, yakni suku Lawata.[6] Pada masa mudanya, Ibnu Batutah mendalami ilmu fikih di sebuah madrasah Suni bermazhab Maliki, yakni bentuk pendidikan yang paling banyak terdapat di Afrika Utara kala itu.[7] Umat Muslim dari mazhab Maliki meminta Ibnu Batutah menjadi kadi (hakim syariat) mereka, karena ia berasal dari negeri yang mengamalkan Mazhab Maliki.[8]

 

Ikhtisar perjalanan 1325–1332

Pertama kali berhaji

Pada bulan Juni 1325, saat berusia dua puluh satu tahun, Ibnu Batutah berangkat meninggalkan kampung halamannya untuk menunaikan ibadah haji, yakni perjalanan ziarah ke Mekah, yang kala itu lazim memakan waktu enam belas bulan. Ia tidak pernah lagi melihat Maroko selama dua puluh empat tahun semenjak keberangkatannya ke Mekah.[9]

 

Aku berangkat seorang diri, tanpa kawan seperjalanan sebagai pelipur lara, tanpa iring-iringan kafilah yang dapat kuikuti, namun didorong oleh hasrat yang menggebu-gebu di dalam diriku, dan impian yang sudah lama terpendam di dalam sanubariku untuk berziarah ke tempat-tempat suci yang mulia ini. Jadi, kubulatkan tekadku untuk meninggalkan orang-orang terkasih, perempuan maupun laki-laki, dan menelantarkan rumahku laksana burung-burung menelantarkan sarang-sarangnya. Alangkah berat rasanya berpisah dari kedua orang tuaku, yang masih hidup kala itu, dan baik beliau berdua maupun diriku sendiri sungguh-sungguh berduka karena harus berpisah.[10]

 

Ibnu Batutah berangkat ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri kawasan pesisir Afrika Utara, melintasi wilayah kesultanan Bani Abdul Wad dan wilayah kesultanan Bani Hafsi. Ia melewati Kota Tlemsan, Kota Bijayah, dan kemudian singgah selama dua bulan di Kota Tunis.[11] Demi keamanan, Ibnu Batutah sering kali berangkat bersama rombongan kafilah agar terhindar dari aksi perampokan. Ia bahkan sempat pula menikah di Kota Sifaks.[12] Pernikahannya di Sifaks adalah pernikahan pertama dari serentetan pernikahan yang kelak dilakukannya selama berkelana menjelajahi pelosok-pelosok dunia.[13]

 

 

Ubin buatan Utsmaniyah dari abad ke-17 bergambar Kabah di Mekah

Pada awal musim semi 1326, setelah menempuh perjalanan sejauh 3.500 km (2.200 mil), Ibnu Batutah akhirnya sampai ke Bandar Aleksandria, yang kala itu termasuk dalam wilayah Kesultanan Mamluk Bahariyah. Di bandar itu pula ia berjumpa dengan dua orang aulia ahli zuhud. Salah seorang di antaranya bernama Syekh Burhanudin yang konon meramalkan bahwa Ibnu Batutah kelak akan menjelajahi dunia. Kepada Ibnu Batutah, ahli zuhud itu berkata, "tampaknya engkau gemar berkelana ke negeri asing. Kelak engkau bertemu dengan saudaraku Faridudin di India, Rukanudin di Sindi, dan Burhanudin di Tiongkok. Sampaikanlah salamku kepada mereka." Ahli zuhud lainnya yang bernama Syekh Mursyidi menafsirkan salah satu mimpi Ibnu Batutah sebagai pertanda bahwa ia telah ditakdirkan menjadi seorang penjelajah dunia.[14][15] Ibnu Batutah singgah selama beberapa pekan di Aleksandria demi mengunjungi situs-situs bersejarah di daerah itu, dan kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Kairo, ibu kota Kesultanan Mamluk sekaligus sebuah kota yang terkemuka. Setelah singgah sekitar sebulan lamanya di Kairo,[16] ia melakukan penjelajahan kali pertama dari sekian banyak perjalanan jelajahnya di wilayah Kesultanan Mamluk yang relatif aman. Dari tiga jalur perjalanan yang biasa ditempuh orang menuju Mekah, Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang dilalui, yakni jalur yang menyusuri lembah Sungai Nil ke arah hulu, kemudian berbelok ke arah timur menuju Bandar Aidab di pesisir Laut Merah.[a] Namun begitu tiba di bandar itu, pecah huru-hara yang membuatnya terpaksa berbalik arah.[18]

 

Ibnu Batutah kembali ke Kairo dan memilih jalur lain, kali ini melewati Kota Damaskus yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mamluk. Dalam perjalanannya yang pertama, ia pernah berjumpa dengan seorang wali yang meramalkan bahwa ia hanya dapat sampai ke Mekah melalui Syam.[19] Jalur kedua ini justru ia anggap menguntungkan, karena melewati banyak tempat suci, termasuk Hebron, Yerusalem, dan Betlehem. Selain itu, para pejabat Kesultanan Mamluk juga mengerahkan segala daya dan upaya untuk menjaga keamanan jalur ini bagi para peziarah. Tanpa jerih payah mereka, para musafir yang melewati jalur ini pastilah menjadi bulan-bulanan perampok dan pembunuh.[20][b]

 

Setelah melewatkan bulan Ramadan di Damaskus, ia berangkat bersama serombongan kafilah, menempuh perjalanan sejauh 1.300 km (810 mil) ke arah selatan menuju Madinah, situs Mesjid Nabi Muhammad. Setelah singgah selama empat hari di Madinah, Ibnu Batutah berangkat menuju Mekah guna menamatkan perjalanan ziarahnya sehingga layak menyandang gelar Al-Haji. Alih-alih pulang ke Maroko selepas berhaji, Ibnu Batutah malah ingin terus berkelana, dan memutuskan untuk bertolak ke arah timur laut menuju Ilkhanan (Negeri Ilkhan Hulagu), salah satu dari sekian banyak negeri yang diperintah oleh Khan Mongol.[25]

 

Irak dan Persia

 

Ibnu Batutah menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota Tabriz pada 1327.

Pada 17 November 1326, setelah sebulan lamanya berdiam di Mekah, Ibnu Batutah bergabung dengan serombongan besar kafilah haji yang akan kembali ke Irak melalui jalur lintas Jazirah Arab.[26] Kafilah ini bertolak ke arah utara menuju Madinah, kemudian meneruskan perjalanan pada malam hari ke arah timur laut, melintasi padang Najd menuju Najaf selama kurang lebih dua pekan. Sesampainya di Najaf, ia berziarah ke Gedung Makam Ali, khalifah keempat.[27]

 

Selepas berziarah, Ibnu Batutah tidak melanjutkan perjalanan bersama kafilah haji menuju Bagdad, dan malah berkelana selama enam bulan menjelajahi negeri Persia. Dari Najaf, ia bertolak menuju Wasit, kemudian menyusuri aliran Sungai Tigris ke arah selatan menuju Basra. Kota berikutnya yang ia kunjungi adalah Isfahan, yang terletak di balik Pegunungan Zagros di Persia. Selanjutnya ia bertolak ke arah selatan menuju Syiraz, sebuah kota besar lagi makmur yang beruntung luput dari aksi penghancuran bala tentara Mongol, tidak seperti banyak kota lain yang terletak lebih ke utara. Ibnu Batutah akhirnya kembali melintasi pegunungan menuju Bagdad, dan tiba di kota itu pada bulan Juni 1327.[28] Berbagai kawasan di Kota Bagdad masih dipenuhi puing-puing reruntuhan, sisa-sisa aksi bumi hangus yang dilakukan oleh bala tentara Hulagu Khan ketika menyerang kota itu pada 1258.[29]

 

Ketika berada di Bagdad, Ibnu Batutah mendapati bahwa Abu Said, pemimpin Mongol terakhir atas segenap wilayah Ilkhanan sebelum negeri itu terpecah-belah, akan berangkat ke arah utara meninggalkan Bagdad diiringi serombongan besar anak buahnya.[30] Ibnu Batutah mula-mula berangkat bersama-sama dengan rombongan Abu Said, namun kemudian memisahkan diri dan menyusuri Jalur Sutra menuju Tabriz, kota besar pertama di wilayah itu yang membuka gerbangnya bagi orang Mongol. Kota Tabriz kala itu merupakan sebuah pusat niaga penting, karena kota-kota pesaing di sekitarnya telah hancur diserang bala tentara Mongol.[31]

 

Ibnu Batutah kembali bertolak menuju Bagdad, kemungkinan besar pada bulan Juli, namun terlebih dahulu berpesiar ke arah utara, menyusuri aliran Sungai Tigris. Ia berkunjung ke Mosul dan dijamu oleh gubernur, pejabat pemerintah Ilkhanan di kota itu,[32] kemudian berkunjung pula ke Kota Cizre (Jazirat Ibnu Umar) dan Kota Mardin yang kini berada dalam wilayah negara Turki. Ketika sampai ke sebuah pertapaan di gunung dekat Sinjar, ia bertemu dengan seorang ahli tasawuf Kurdi yang menghadiahinya beberapa keping uang perak.[c][35] Sekembalinya ke Mosul, ia bergabung dengan serombongan jemaah haji dan berangkat ke Bagdad. Rombongan ini bergabung dengan kafilah haji di Bagdad dan berangkat melintasi Gurun Arab menuju Mekah. Akibat terserang diare dalam perjalanan, Ibnu Batutah tiba di Mekah untuk menunaikan ibadah haji kali kedua dengan tubuh lemah dan letih lesu.[36]

 

Jazirah Arab

 

Kota Tua Sana, Yaman

Riwayat dalam Ar-Rihlah Ibnu Batutah menyiratkan bahwa ia berdiam di Mekah selama tiga tahun, sejak bulan September 1327 sampai musim gugur 1330. Meskipun demikian, kesimpangsiuran penyebutan tarikh dalam Ar-Rihlah membuat para pengkaji menduga bahwa Ibnu Batutah sesungguhnya telah meninggalkan Mekah selepas berhaji pada 1328.[d]

 

Selepas berhaji pada 1328 atau 1330, ia berangkat ke Bandar Jeddah yang terletak di pesisir Laut Merah. Dari Jeddah, ia berlayar bergonta-ganti perahu menyusuri pantai, menentang hembusan angin tenggara yang memperlambat laju pelayaran. Setibanya di Negeri Yaman, ia berkunjung ke Kota Zabid dan ke Kota Taiz yang terletak di daerah pegunungan, tempat ia berjumpa dengan Malik (raja) Mujahid Nurudin Ali dari Bani Rasul. Ibnu Batutah juga meriwayatkan kunjungannya ke Kota Sana, namun kebenarannya diragukan.[37] Agaknya ia langsung berangkat dari Taiz menuju Aden, dan tiba di bandar penting itu sekitar awal 1329 atau 1331.[38]

 

Somalia

 

Bandar dan pelabuhan Zeila

Dari Aden, Ibnu Batutah berlayar dengan kapal menuju Bandar Zeila yang terletak di pesisir Somalia. Dari Zeila, ia melanjutkan perjalanannya menyusuri kawasan pesisir Somalia sampai ke Tanjung Guardafui, dan tinggal kira-kira sepekan lamanya di tiap-tiap kota yang ia singgahi. Ibnu Batutah selanjutnya berkunjung ke Mogadisyu, kota yang paling terkemuka kala itu di "Negeri Orang Berber" (bahasa Arab: بلد البربر, Biladil Barbar, sebutan orang Arab bagi kawasan Tanduk Afrika pada Abad Pertengahan).[39][40][41]

 

Tatkala Ibnu Batutah tiba di Mogadisyu pada 1331, kota itu sedang berada pada puncak kemakmurannya. Ibnu Batutah menggambarkan Mogadisyu sebagai "sebuah bandar yang luar biasa besarnya", ramai saudagar kaya, dan masyhur karena menghasilkan kain bermutu tinggi yang diekspor ke negeri-negeri lain, bahkan sampai ke Mesir.[42] Ia menambahkan pula bahwa kota itu diperintah oleh seorang Sultan Somali bernama Abu Bakar bin Syekh Umar,[43][44] yang berasal dari daerah Berbera di kawasan utara Somalia. Sultan Somali ini fasih berbahasa Arab, sefasih berbahasa Somali (Ibnu Batutah menyebutnya sebagai "bahasa Mogadisyu", yakni bahasa Somali dialek Benadir).[44][45] Sang Sultan didampingi oleh barisan wazir (menteri), ahli hukum, senapati, sida-sida, dan bermacam-macam pengiring lain yang siap sedia melayaninya.[44]

 

Pesisir Swahili

 

Mesjid Agung Kilwa Kisiwani, mesjid terbesar yang dibangun menggunakan batu karang

Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya dengan menumpangi kapal yang berlayar ke arah selatan menuju kawasan Pesisir Swahili yang disebut "Negeri Orang Jenggi" (bahasa Arab: بلد الزنج, Biladil Zanj) oleh orang-orang Arab,[46] dan sempat bermalam di Mombasa, sebuah bandar pulau.[47] Meskipun relatif kecil kala itu, Mombasa kelak berkembang menjadi sebuah bandar terkemuka pada abad berikutnya.[48] Setelah melakukan perjalanan menyusuri pantai, Ibnu Batutah akhirnya sampai di bandar pulau lainnya, yakni Kilwa, yang kini berada di dalam wilayah negara Tanzania.[49] Bandar Kilwa kala itu merupakan sebuah pusat persinggahan penting dalam jaringan perniagaan emas.[50] Ia menggambarkan bandar itu sebagai "salah satu dari kota-kota paling permai, yang dibangun dengan sedemikian eloknya; semua bangunan terbuat dari kayu, dan atap rumah-rumahnya terbuat dari gelagah dīs."[51]

 

Riwayat kunjungan Ibnu Batutah ke Kesultanan Kilwa baru dicatat pada 1330, dan berisi ulasan yang memuji-muji kerendahan hati dan amal ibadah penguasanya yang bernama Sultan Al-Hasan bin Sulaiman, keturunan dari penguasa legendaris yang bernama Ali bin Al-Hasan Syirazi. Ia meriwayatkan lebih lanjut bahwa mandala kekuasaan Sang Sultan membentang mulai dari Malindi di utara sampai ke Inhambane di selatan, dan secara khusus mengagumi perancangan Kota Kilwa yang ia anggap sebagai keunggulan yang membuat Kilwa menjadi bandar terkemuka di kawasan pesisir. Pada masa inilah Istana Husuni Kubwa dibangun, dan Mesjid Agung Kilwa diperluas secara besar-besaran. Mesjid yang berbahan bangunan batu karang ini adalah mesjid terbesar di antara mesjid-mesjid sejenisnya. Manakala hembusan angin muson berubah arah, Ibnu Batutah pun berlayar pulang ke Jazirah Arab; mula-mula ke Oman, kemudian ke Selat Hormuz, dan akhirnya ke Mekah untuk berhaji pada 1330 (atau pada 1332).[52]

 

Ikhtisar perjalanan 1332–1347

Anatolia

 

Ibnu Batutah mungkin saja pernah menghadap Andronikos III Palaiologos menjelang akhir tahun 1332

Selepas menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya, Ibnu Batutah memutuskan untuk mengadu nasib dengan mengabdi pada Sultan Delhi, Muhammad bin Tughluq. Pada musim gugur 1330 (atau 1332), Ibnu Batutah bertolak menuju Anatolia yang kala itu dikuasai oleh orang Turki-Seljuk, karena ia berniat untuk pergi ke India melalui jalur darat.[53] Dari Jazirah Arab, ia berlayar menyeberangi Laut Merah, dilanjutkan dengan perjalanan melintasi Gurun Timur sampai ke Lembah Sungai Nil, lalu berbelok ke arah utara menuju Kairo. Dari Kairo, ia menempuh perjalanan melintasi Semenanjung Sinai menuju Palestina, lalu berbelok ke arah utara melewati beberapa kota yang pernah dikunjunginya pada 1326. Dari Bandar Latakia di Negeri Syam, Ibnu Batutah (dan kawan-kawan) berlayar menumpangi sebuah kapal Genova menuju Bandar Alanya yang terletak di pesisir selatan negara Turki sekarang ini.[54] Dari Alanya, ia menempuh perjalanan menyusuri pantai ke arah barat sampai ke Bandar Antalya.[55] Di Antalya, ia berjumpa dengan anggota-anggota salah satu perhimpunan fityan yang bersifat semiagamawi.[56] Keberadaan perhimpunan-perhimpunan semacam ini sudah menjadi salah satu ciri khas dari sebagian besar kota-kota di Anatolia pada abad ke-13 dan ke-14. Para anggota fityan adalah pengrajin-pengrajin muda yang dipimpin oleh seorang ketua bergelar Akhis.[57] Fityan dibentuk dengan tujuan menjamu para musafir. Ibnu Batutah sangat terkesan oleh keramahtamahan para anggota fityan, dan kelak menginap di balai-balai penyantunan mereka yang tersebar di lebih dari 25 kota di Anatolia.[58] Dari Antalya, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya ke kawasan pedalaman menuju Eğirdir, ibu kota Bani Hamidi. Ia melewatkan bulan Ramadan (bulan Juni 1331 atau bulan Mei 1333) di kota itu.[59]

 

Mulai dari Eğirdir, riwayat perjalanan Ibnu Batutah di daratan Anatolia yang termaktub dalam Ar-Rihlah mulai simpang siur. Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa ia melakukan perjalanan ke arah barat dari Eğirdir menuju Milas, disambung dengan kunjungan ke Konya, padahal perjalanan ke Konya berlawanan arah dengan perjalanan ke Milas sehingga seakan-akan dalam sekejap mata ia telah melompati jarak sejauh 420 km (260 mil) dari Eğirdir ke sebelah timur menuju Konya. Dari Konya, Ibnu Batutah berkelana ke arah timur sampai ke Erzurum, disambung dengan kunjungan ke Birgi, padahal Birgi terletak di sebelah utara Milas sehingga sekali lagi seakan-akan dalam sekejap mata ia telah melakukan perjalanan balik ke arah barat sejauh 1.160 km (720 mil) dari Erzurum menuju Birgi.[60] Para sejarawan yakin bahwa Ibnu Batutah memang pernah berkunjung ke kota-kota di kawasan tengah Anatolia itu, tetapi urut-urutannya bukan seperti yang ia riwayatkan.[61][e]

 

Asia Tengah

 

Unta Baktria (salah satu ciri khas kafilah-kafilah Jalur Sutra) di depan Gedung Makam Khoja Ahmad Yasawi di Kota Turkistan, Kazakhstan.

Dari Bandar Sinope, Ibnu Batutah berlayar menuju Semenanjung Krimea, dan tiba di Negeri Orda Kencana. Ia berkunjung ke Bandar Azov, tempat ia berjumpa dengan emir Sang Khan, lalu berkunjung ke Kota Majar yang besar dan makmur kala itu. Dari Majar, Ibnu Batutah berangkat menghadap majelis jelajah (orda) Öz Beg Khan, yang kala itu sedang singgah di dekat Pegunungan Bestau. Dari majelis jelajah Khan, ia melanjutkan perjalanan menuju Bolgar, tempat paling utara yang pernah ia datangi. Di Bolgar, Ibnu Batutah mencermati suatu keganjilan waktu (bagi orang yang berdiam di daerah subtropis), yakni malam hari yang berlangsung singkat sepanjang musim panas. Ia kemudian kembali ke majelis jelajah Öz Beg Khan, dan ikut serta dalam iring-iringan ketika rombongan majelis kerajaan itu berpindah ke Astrakhan.

 

Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa ketika berada di Bolgar, ia berniat meneruskan perjalanan ke arah utara menuju negeri kegelapan. Seantero negeri itu (kawasan utara Siberia) tertutupi salju, dan satu-satunya wahana yang dapat digunakan orang untuk bepergian di negeri itu adalah eretan berpenghela anjing. Negeri itu didiami oleh orang-orang misterius yang enggan memperlihatkan diri. Mereka berdagang dengan orang-orang di sebelah selatan negerinya dengan cara yang unik. Saudagar-saudagar dari selatan membawa berbagai macam barang ke suatu tempat terbuka pada malam hari, dan menggeletakkannya begitu saja di atas salju, lalu kembali ke perkemahan mereka. Pada pagi hari, saudagar-saudagar itu kembali ke tempat mereka menaruh barang-barangnya semalam, dan mendapati bahwa dagangan mereka telah diambil oleh orang-orang misterius, tetapi diganti dengan berlembar-lembar kulit bulu binatang yang dapat diolah menjadi mantel, jaket, dan berbagai macam sandangan musim dingin yang mahal harganya. Pertukaran barang dagangan ini dilakukan oleh kedua belah pihak tanpa saling berjumpa. Karena bukan seorang saudagar, Ibnu Batutah menganggap kunjungan ke tempat semacam itu tidak berfaedah, sehingga mengurungkan niatnya untuk menjelajahi negeri kegelapan.[64]

 

 

Bendera Negeri Orda Kencana pada masa pemerintahan Öz Beg Khan

Sesampainya rombongan majelis jelajah di Astrakhan, Öz Beg Khan mengizinkan salah seorang istrinya yang sedang mengandung, yakni Putri Bayalun, anak perempuan dari Kaisar Bizantin, Andronikos III Palaiologos, untuk pulang ke kampung halamannya di Konstantinopel sampai selesai bersalin. Dengan kecerdikannya bertutur kata, Ibnu Batutah berhasil mendapatkan tempat dalam rombongan pengiring Putri Bayalun. Kunjungan ke Konstantinopel adalah kunjungan pertama Ibnu Batutah ke negeri yang terletak di luar tapal batas Dunia Islam.[65]

 

Setibanya di Konstantinopel, menjelang akhir tahun 1332 (atau 1334), Ibnu Batutah menghadap Kaisar Andronikos III Palaiologos. Ia berkunjung ke Gereja Agung Hagia Sofia, dan berbincang-bincang dengan seorang imam Ortodoks Timur seputar kunjungannya ke Kota Yerusalem. Setelah berdiam sebulan lamanya di Konstantinopel, Ibnu Batutah kembali ke Astrakhan, kemudian meneruskan perjalanan ke Sarai Al-Jadid, ibu kota kesultanan, guna mempersembahkan hal-ihwal kunjungan ke Konstantinopel kepada Sultan Öz Beg Khan (memerintah 1313–1341). Ibnu Batutah kemudian melanjutkan perjalanannya menyeberangi Laut Kaspia dan Laut Aral, menuju Bukhara dan Samarkand. Setibanya di Samarkand, ia menghadap majelis istana raja Mongol lainnya yang bernama Tarmasyirin (memerintah 1331–1334), penguasa Negeri Khan Tsagatai.[66] Dari Samarkand, ia meneruskan perjalanan ke arah selatan menuju Afganistan, lalu melewati jalur lintas Pegunungan Hindu Kus menuju India.[67] Dalam Ar-Rihlah, Ibnu Batutah memberi gambaran mengenai pegunungan ini, sekaligus menyinggung andilnya dalam sejarah perniagaan budak belian.[68][69]

 

Sesudah itu, aku melanjutkan perjalanan menuju Kota Barwan, melewati sebuah gunung tinggi bersalut salju yang luar biasa dinginnya; orang menamakan gunung itu Hindu Kus, artinya Penjagal Hindu, karena sebagian besar budak belian pengantar upeti dari India tewas dicekam hawa dingin di gunung itu.

 

— Ibn Battuta, Bab XIII, Ar-Rihlah – Khorasan[69][70]

Ibnu Batutah dan kawan-kawan tiba di Sungai Indus pada 12 September 1333.[71] Dari Sungai Indus, ia melanjutkan perjalanan menuju Delhi, dan akhirnya berjumpa dengan Sultan Muhammad bin Tughluq.

 

Asia Selatan

 

Makam Sultan Firuz Syah Tughluq, pengganti Muhammad bin Tughluq, di Delhi. Ibnu Batutah menduduki jabatan qadi (kadi) selama enam tahun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Tughluq.

Muhammad bin Tughluq tersohor sebagai orang terkaya di Dunia Islam kala itu. Ia mempekerjakan sejumlah besar alim-ulama, ahli tasawuf, kadi, wazir, dan berbagai cerdik pandai lainnya demi memperkukuh kekuasaannya. Sebagaimana Kesultanan Mamluk di Mesir, Bani Tughluq adalah contoh langka dari sisa-sisa pemerintahan Muslim di Asia selepas invasi Mongol. Karena pernah belajar bertahun-tahun lamanya di Mekah, Ibnu Batutah diangkat menjadi kadi oleh Sang Sultan.[72] Meskipun demikian, ia merasa sukar untuk menerapkan Syariat Islam di luar kalangan istana sultan di Delhi, karena tidak adanya mahkamah syariat di India.[73]

 

 

Ibnu Batutah berkunjung ke Petilasan Baba Farid di Pakpattan pada 1334.[74]

Jalur yang dilewati Ibnu Batutah menuju Anak Benua India tidak diketahui secara pasti. Ia mungkin saja melewati Perlintasan Khaibar dan Pesyawar, atau lebih jauh lagi di sebelah selatan.[75] Ia menyeberangi Sungai Sutlej dekat Kota Pakpattan di wilayah Pakistan sekarang ini.[76] Di Pakpattan, ia menyempatkan diri untuk berziarah ke Petilasan Baba Farid,[74] sebelum meneruskan perjalanan ke arah barat daya menuju Negeri Rajaputra (Rajput). Dari Kerajaan Sarsati di Rajaputra, Ibnu Batutah berkunjung ke Kota Hansi di India, yang ia gambarkan sebagai "kota yang terelok bangunnya dan yang teramai warganya di antara semua kota yang permai; kota ini bertembok kukuh, dan konon didirikan oleh seorang maharaja kafir yang bernama Tara".[77] Ibnu Batutah meriwayatkan pula bahwa tatkala berkunjung ke Sindi, ia melihat kawanan badak India yang hidup di tepian Sungai Indus.[78]

 

Sang Sultan adalah orang yang tidak tetap pendiriannya, bahkan untuk ukuran masa itu. Akibatnya, nasib Ibnu Batutah terombang-ambing tak menentu selama enam tahun. Kadang-kadang ia dianggap sebagai abdi tepercaya, namun tidak jarang pula dicurigai sebagai seorang musuh dalam selimut. Niatnya untuk angkat kaki dari negeri itu dengan alasan menunaikan ibadah haji pun digagalkan oleh sultan. Kesempatan untuk meninggalkan Delhi akhirnya tiba pada 1341, manakala serombongan utusan wangsa Yuan dari Tiongkok datang menghadap sultan untuk meminta izin membangun kembali sebuah wihara di Himalaya yang ramai dikunjungi para peziarah Tionghoa.[f][82]

 

Ibnu Batutah diutus sebagai duta besar Kesultanan Delhi ke Negeri Tiongkok, namun dalam perjalanan menuju daerah pesisir untuk berlayar ke Tiongkok, rombongan besar perutusan Delhi yang dipimpinnya diserang oleh segerombolan penjahat.[83] Ibnu Batutah terpisah dari rombongan perutusan dan dirampok habis-habisan sampai nyaris kehilangan nyawa.[84] Sepuluh hari kemudian, ia bertemu kembali dengan rombongan perutusan, dan melanjutkan perjalanan menuju Bandar Khambat yang kini berada dalam wilayah Negara Bagian Gujarat di India. Dari Khambat, rombongan perutusan berlayar menuju Bandar Kalikut (sekarang Kozikod), bandar yang kelak disinggahi penjelajah Portugis, Vasco da Gama, dua abad kemudian. Di Kalikut, Ibnu Batutah dijamu sebagai tamu Zamorin (Raja Kalikut).[72] Ketika berkunjung ke sebuah mesjid di tepi pantai, tiba-tiba turun badai besar yang menenggelamkan salah satu dari kapal-kapal rombongan perutusan.[85] Kapal perutusan lainnya, yang melanjutkan pelayaran tanpa Ibnu Batutah, dirampas oleh seorang raja pribumi Sumatra beberapa bulan kemudian.

 

Karena takut dinilai gagal menunaikan tugas, Ibnu Batutah tidak kembali ke Delhi, tetapi tinggal selama beberapa waktu di kawasan selatan India di bawah perlindungan Sultan Jamaludin, penguasa Kesultanan Nawayat yang kecil namun kuat di tepi Sungai Syarawati yang bermuara ke Laut Arab. Daerah ini sekarang bernama Hosapattana, di Bandar Honnavar, distrik administratif Uttara Kannada. Ketika Kesultanan Nawayat tumbang, Ibnu Batutah tidak punya pilihan lain kecuali angkat kaki dari India. Meskipun sangat ingin berkelana ke Negeri Tiongkok, Ibnu Batutah justru berlayar ke Kepulauan Maladewa dan bekerja sebagai kadi.[86]

 

 

Pemandangan sebuah pulau di Maladewa

Ia tinggal selama sembilan bulan di kepulauan itu, jauh lebih lama dari niatnya semula. Sebagai seorang kadi besar yang berpengalaman, ilmunya sangat dibutuhkan di Maladewa, sebuah negeri yang baru saja beralih keyakinan dari agama Buddha ke agama Islam. Setelah didesak untuk menetap, ia diangkat menjadi hakim agung dan dinikahkan dengan kerabat perempuan dari Sultan Umar I. Ia melibatkan diri dalam percaturan politik di negeri itu, dan akhirnya memutuskan untuk angkat kaki manakala ketegasannya menentang perilaku hidup bebas di kerajaan kepulauan itu mulai menjengkelkan para penguasa. Dalam Ar-Rihlah ia meriwayatkan keprihatinannya melihat perempuan-perempuan pribumi berseliweran dengan telanjang dada, sementara kecamannya terhadap kebiasaan ini malah tidak dihiraukan oleh masyarakat setempat.[87] Dari Maladewa, ia berlayar ke Sri Lanka, dan menyempatkan diri untuk mendaki ke puncak Gunung Sri Pada serta berkunjung ke Kuil Tenawaram.

 

Kapal yang ia tumpangi nyaris karam tatkala bertolak meninggalkan Sri Lanka, dan perahu yang menyelamatkannya malah diserang lanun. Setelah dilepas ke pantai, ia berusaha mencari jalan menuju Madurai di India. Ia sempat tinggal selama beberapa waktu di lingkungan istana Kesultanan Madurai yang berumur pendek itu, di bawah perlindungan Sultan Giyasudin Muhammad Damgani.[88] Dari Madurai, ia kembali ke Maladewa, lalu menumpang sebuah jung Tiongkok, dengan niat untuk berlayar ke Negeri Tiongkok dan menunaikan tugasnya sebagai Duta Besar Kesultanan Delhi.

 

Ia turun di Bandar Citagong, yang kini berada dalam wilayah negara Banglades, dengan maksud berkunjung ke Srihatta untuk menjumpai Syah Jalal, seorang ahli tasawuf yang sudah sedemikian sohornya sampai-sampai Ibnu Batutah rela sebulan penuh menempuh perjalanan melintasi daerah Pegunungan Kamarupa di dekat Srihatta demi berjumpa dengannya. Dalam perjalanannya menuju Srihatta, Ibnu Batutah bertemu dengan beberapa murid Syah Jalal yang membantunya menempuh perjalanan berhari-hari lamanya. Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa Syah Jalal, yang ia jumpai pada 1345 M itu, berperawakan tinggi dan ramping, terang warna kulitnya, dan menghuni sebuah gua yang bersebelahan dengan mesjid. Satu-satunya harta bernilai yang dimiliki Syah Jalal adalah seekor kambing yang ia pelihara sebagai penghasil susu, mentega, dan dadih. Ibnu Batutah meriwayatkan pula bahwa para pengiring Syah Jalal adalah orang-orang asing yang terkenal kuat lagi pemberani, dan banyak orang yang datang memohon nasihat dari ahli tasawuf itu. Ibnu batutah kemudian melakukan perjalanan lebih jauh lagi ke arah utara menuju Assam, lalu pulang ke pesisir untuk melanjutkan pelayaran menuju Negeri Tiongkok.

 

Asia Tenggara

Pada 1345, Ibnu Batutah melanjutkan pelayarannya dan menyinggahi Kesultanan Samudra Pasai (disebut "al-Jawa") di kawasan utara Pulau Sumatra yang kini termasuk dalam wilayah Provinsi Aceh, setelah 40 hari perjalanan dari Sunarkawan.[89][90] Ia meriwayatkan bahwa penguasa Samudra Pasai adalah seorang Muslim saleh yang bernama Sultan Al-Malikul Zahir Jamaludin. Sultan ini rajin beribadah dengan tingkat ketekunan yang tinggi, dan kerap memerangi kaum penyembah berhala di kawasan itu. Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa Pulau Sumatra kaya akan kapur barus, biji pinang, cengkih, dan timah. Mazhab yang dianut di negeri itu adalah mazhab Imam Syafi‘i, dan amalan-amalan umat Muslim Samudra Pasai mirip dengan amalan-amalan yang pernah ia lihat di kawasan pesisir India, khususnya di kalangan umat Muslim Mappila, yang juga menganut mazhab Imam Syafi‘i. Pada masa itu, Samudra Pasai adalah pelosok terjauh Darul Islam (wilayah berpemerintahan Islam), karena tidak ada lagi wilayah lain di sebelah timur Samudra Pasai yang diperintah penguasa Muslim. Di Samudra Pasai, Ibnu Batutah tinggal sekitar dua pekan lamanya di dalam kota berpagar kayu sebagai tamu sultan. Sang Sultan mencukupi perbekalan yang diperlukan untuk berlayar, dan memberangkatkan Ibnu Batutah ke Negeri Tiongkok dengan salah satu jung pribadinya.[91]

 

Ibnu Batutah pertama kali berlayar selama 21 hari ke sebuah tempat yang disebut "Mul Jawa" (pulau Jawa) yang merupakan pusat sebuah kekaisaran Hindu. Kekaisaran membentang sebesar 2 bulan perjalanan, dan memerintah negara Qaqula dan Qamara. Dia tiba di kota bertembok bernama Qaqula/Kakula, dan mengamati bahwa kota itu memiliki kapal perang untuk bajak laut yang merampok dan mengumpulkan tol dan gajah dipekerjakan untuk berbagai tujuan. Dia bertemu dengan penguasa Mul Jawa dan tinggal sebagai tamu selama tiga hari.[92][93][94]

 

Dari Malaka, Ibnu Batutah berlayar ke sebuah kerajaan bernama Kailukari di Negeri Tawalisi, tempat ia berjumpa dengan Urduja, seorang putri pribumi. Urduja adalah seorang srikandi pemberani, dan rakyatnya memusuhi wangsa Yuan. Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa Urduja adalah seorang "penyembah berhala", namun pandai menuliskan Kalimat Basmalah sesuai kaidah seni menyurat Islam. Lokasi Kailukari maupun Tawalisi masih menjadi pokok perdebatan. Kailukari mungkin saja adalah Po Klong Garai di Campa (sekarang kawasan selatan Vietnam), dan Urduja boleh jadi adalah salah seorang bangsawati Campa dari wangsa Trần. Masyarakat Filipina meyakini bahwa Kailukari adalah daerah yang kini menjadi Provinsi Pangasinan di negara Filipina.[95] Kemenangan atas Mongol menunjukkan 2 kemungkinan lokasinya: Jepang dan Jawa (Majapahit).[96] Pada zaman modern, sosok Urduja ditampilkan dalam buku-buku bacaan dan film-film Filipina sebagai salah seorang pahlawan nasional perempuan negara itu. Banyak tempat lain yang juga diperkirakan sebagai lokasi kerajaan ini, mulai dari Pulau Jawa sampai ke Provinsi Guangdong di Tiongkok. Meskipun demikian, Sir Henry Yule dan William Henry Scott beranggapan bahwa seluruh riwayat tentang Negeri Tawalisi maupun Putri Urduja hanya khayalan belaka (untuk keterangan lebih lanjut, baca Tawalisi).

 

Dari Kailukari, Ibnu Batutah bertolak menuju Bandar Quanzhou di Provinsi Fujian, Negeri Tiongkok.

 

Negeri Tiongkok

 

Dalam ranah ilmu geografi Islam, Ibnu Batutah adalah orang pertama yang menyajikan keterangan mengenai Tembok Besar Tiongkok, meskipun ia tidak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Pada tahun 1345, Ibnu Batutah tiba di Bandar Quanzhou, di Provinsi Fujian, Negeri Tiongkok, yang kala itu diperintah oleh bangsa Mongol. Salah satu hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sebutan umat Muslim bagi bandar itu, yakni "Zaitun", walau tak sebatang pun pohon zaitun yang dapat ia temukan di Negeri Tiongkok. Ibnu Batutah mengagumi kepiawaian para seniman pribumi dalam melukis wajah orang-orang asing yang baru saja tiba; hal ini dilakukan demi kepentingan keamanan. Ibnu Batutah memuji-muji para pengrajin serta sutra dan tembikar yang mereka hasilkan; ia juga memuji buah-buahan khas Tiongkok seperti persik dan semangka, mengagumi manfaat-manfaat uang kertas,[97] dan menggambarkan proses pengerjaan kapal-kapal besar di Bandar Quanzhou.[98] Ia juga mencermati budaya boga orang Tionghoa, dan pemanfaatan berbagai jenis daging satwa sebagai bahan pangan, seperti katak, babi, bahkan anjing, yang dijual orang di pasar-pasar. Ia memperhatikan ukuran ayam-ayam Tiongkok yang menurutnya lebih besar daripada ayam yang biasa ia lihat. Sekalipun demikian, para pengkaji mendapati banyak kekeliruan dalam keterangan Ibnu Batutah mengenai Tiongkok, misalnya saja Sungai Kuning dikacaubalaukan dengan Terusan Besar serta terusan-terusan lain di Tiongkok, dan menyangka bahwa tembikar terbuat dari batu bara.[99]

 

Di Quanzhou, Ibnu Batutah disambut oleh pemimpin saudagar Muslim (mungkin seorang 番長, fānzhǎng, pemimpin orang asing)dan Syaikhul Islam (imam) bandar itu, yang menyongsong kedatangannya dengan kibaran panji-panji, tabuhan genderang, tiupan sangkakala, dan barisan pemain musik.[100] Ibnu Batutah mencermati bahwa umat Muslim di bandar itu tinggal di kawasan permukiman tersendiri, tempat mereka membangun mesjid-mesjid, pasar-pasar, dan rumah-rumah sakit sendiri. Di Quanzhou, ia berjumpa dengan dua tokoh terkemuka asal Persia, yakni Burhanudin dari Kazerun dan Syarifudin dari Tabriz,[101] kedua orang ini adalah tokoh-tokoh berpengaruh yang tercatat dalam Sejarah Yuan dengan nama "A-mi-li-ding" dan "Sai-fu-ding".[102] Semasa tinggal di Quanzhou, ia menyempatkan diri untuk mendaki "Gunung Pertapa" dan berjumpa dengan seorang rahib Tao terkenal di dalam sebuah gua.

 

Ibnu Batutah kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan, menyusuri kawasan pesisir Tiongkok, menuju Bandar Guangzhou, dan menginap selama dua pekan di rumah salah seorang saudagar kaya di bandar itu.[103]

 

Dari Guangzhou, ia kembali ke Quanzhou, kemudian meneruskan perjalanan ke Bandar Fuzhou, dan menginap di rumah Zahirudin. Di Fuzhou, Ibnu Batutah berjumpa dengan Kawamudin, dan salah seorang rekan senegaranya, yakni Al-Busyri dari Sebtah, yang sudah menjadi saudagar kaya di Tiongkok. Al-Busyri menemani Ibnu Batutah dalam perjalanannya ke arah utara menuju Hangzhou, serta membelikannya hadiah-hadiah yang akan dipersembahkan kepada Kaisar Togontemür dari wangsa Yuan.[104]

 

Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa Hangzhou adalah salah satu dari kota-kota terbesar yang pernah ia lihat,[105] dan mencermati daya pikat kota itu, yang ia gambarkan terletak di tepi sebuah danau yang indah, dikelilingi bukit-bukit hijau yang asri.[106] Ia juga menyebut-nyebut kawasan permukiman umat Muslim di kota itu, dan tinggal sebagai tamu di rumah sebuah keluarga asal Mesir.[104] Ketika tinggal di Hangzhou, ia sangat terpukau melihat begitu banyak kapal kayu buatan Tiongkok yang berlabuh di terusan-terusan. Ia meriwayatkan bahwa kapal-kapal itu sangat bagus buatannya, dan dicat dengan sedemikian eloknya, diperlengkapi dengan dengan layar-layar beraneka warna, dan tudung penghalang terik matahari yang terbuat dari sutra. Ia menghadiri perjamuan yang digelar oleh wali kota Hangzhou berkebangsaan Mongol, seorang pejabat pemerintah kekaisaran wangsa Yuan, yang bernama Qurtai. Menurut Ibnu Batutah, Qurtai gemar menyaksikan kemahiran para tukang tenung Tionghoa.[107] Ibnu Batutah juga berkisah tentang masyarakat pribumi yang menyembah dewa matahari.[108]

 

Ibnu Batutah meriwayatkan pengalamannya berperahu menyusuri Terusan Besar, sambil menikmati pemandangan lahan-lahan pertanian, bunga-bunga anggrek, saudagar-saudagar berpakaian sutra hitam, perempuan-perempuan berbusana cindai, dan pendeta-pendeta yang juga mengenakan pakaian dari sutra.[109] Di Beijing, Ibnu Batutah mengaku sebagai duta besar Kesultanan Delhi yang sudah lama tak terdengar kabar beritanya, dan diundang ke istana untuk menghadap Kaisar Togontemür (yang menurut riwayat Ibnu Batutah, disembah oleh sebagian rakyat Tiongkok). Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa istana Khanbaliq terbuat dari kayu, dan "garwa padmi" sang Kaisar (Permaisuri Gi) menggelar arak-arakan untuk menunjukkan kebesarannya.[110][111]

 

Ibnu Batutah juga meriwayatkan kabar yang ia dengar tentang "tembok besar Yajuj dan Majuj" yang berjarak "enam puluh hari perjalanan" dari Bandar Zaitun (Quanzhou).[112] Menurut Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, Ibnu Batutah yakin bahwa Tembok Besar Tiongkok dibangun oleh Zulkarnain untuk mengurung Gog dan Magog sebagaimana termaktub dalam Al-Quran.[112] Meskipun demikian, ketika bertanya-tanya tentang Tembok Besar Tiongkok, Ibnu Batutah tidak dapat menemukan seorang pun yang pernah melihat sendiri maupun yang kenal dengan orang yang pernah melihat sendiri bangunan itu, sehingga menimbulkan dugaan bahwa pada masa itu sudah tidak ada lagi sisa-sisa yang menonjol dari bangunan awal tembok raksasa itu (Tembok Besar Tiongkok yang ada sekarang ini baru dibangun pada zaman wangsa Ming).[113]

 

Dari Beijing, Ibnu batutah kembali ke Hangzhou, kemudian melanjutkan perjalanan ke Fuzhou. Sekembalinya ke Quanzhou, Ibnu Batutah segera naik ke jung milik Sultan Samudra Pasai untuk berlayar balik ke Asia Tenggara. Malangnya, para awak jung secara sewenang-wenang menagih bea penumpang yang sangat besar jumlahnya, sehingga Ibnu batutah terpaksa harus merelakan sebagian besar harta kekayaan yang berhasil ia kumpulkan selama berkelana di Negeri Tiongkok.[114]

 

Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa jenazah Khan Mongol (Qan) disemayamkan di dalam bangunan makamnya bersama enam orang budak prajurit, dan empat orang budak perempuan.[115] Perak, emas, senjata-senjata, dan permadani-permadani turut dimasukkan pula ke dalam bangunan makam itu.[116]

 

Pulang

Sekembalinya ke Quanzhou pada 1346, Ibnu Batutah pun memulai perjalanan pulangnya ke Maroko.[117] Di Kalikut, ia sempat menimbang-nimbang untuk kembali ke Delhi dan memasrahkan diri pada belas kasihan Sultan Muhammad bin Tughluq, namun kemudian mengurungkan niatnya itu, dan memutuskan untuk terus berlayar menuju Mekah. Dalam pelayaran melintasi Selat Hormuz menuju Basra, ia mendengar kabar bahwa Abu Said, penguasa terakhir dari wangsa Ilkhanan telah mangkat di Persia, dan wilayah kekuasaannya sedang diamuk perang saudara antara Persia dan Mongol.[118]

 

Pada 1348, Ibnu Batutah tiba di Damaskus, hendak menapaki kembali jalur yang pernah ia tempuh ketika berangkat haji untuk pertama kalinya. Ia kemudian menerima kabar bahwa ayahnya telah wafat 15 tahun yang lampau,[119] dan mulai dari tahun berikutnya kabar duka menjadi tema utama dalam riwayat perjalanannya. Tatkala ia berada di Timur Tengah, wabah Maut Hitam sedang berjangkit di seluruh wilayah Suriah, Palestina, dan Jazirah Arab. Di Mekah, ia memutuskan untuk pulang ke Maroko, setelah hampir seperempat abad lamanya berkelana meninggalkan kampung halaman.[120] Dalam perjalanan pulang, Ibnu Batutah masih menyempatkan diri untuk menjelajahi Sardinia, dan akhirnya pulang ke Tanjah lewat Fez pada 1349, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa ibunya juga telah wafat beberapa bulan sebelumnya.[121]

 

Ikhtisar perjalanan 1349–1354

Spanyol dan Afrika Utara

 

Ibnu Batutah berkunjung ke Emirat Granada, satu-satunya negeri yang tersisa dari wilayah kekuasaan orang Arab-Andalusia di Al-Andalus.

Setelah sembilan hari berada di Tanjah, Ibnu Batutah berangkat menuju Al-Andalus, wilayah kekuasaan Muslim di Semenanjung Iberia. Alfonso XI, Raja Kastila dan León, telah memaklumkan perang terhadap Gibraltar. Ancaman perang inilah yang mendorong Ibnu Batutah untuk bergabung dengan serombongan umat Muslim Tanjah dan berangkat ke Al-Andalus untuk mempertahankan Bandar Gibraltar pada 1350.[122] Ketika Ibnu Batutah tiba di Al-Andalus, Raja Alfonso sudah mangkat akibat terjangkiti wabah Maut Hitam, sehingga ancaman perang atas Gibraltar pun berakhir. Ibnu Batutah memanfaatkan kesempatan itu untuk melancong melihat-lihat pemandangan Al-Andalus. Ia melakukan perjalanan melintasi Negeri Valencia sampai ke Granada.[123]

 

Setelah bertolak meninggalkan Al-Andalus, ia memutuskan untuk berkelana menjelajahi wilayah Maroko. Dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, ia singgah selama beberapa waktu di Marakes yang kala itu sudah nyaris seperti kota hantu selepas dilanda wabah dan akibat pemindahan pusat pemerintahan ke Fez.[124]

 

Ibnu Batutah akhirnya kembali ke Tanjah, namun hanya tinggal untuk sementara waktu. Pada 1324, dua tahun sebelum kunjungan pertama Ibnu Batutah ke Kairo, Mansa (raja diraja) Musa, penguasa Kemaharajaan Mali di Afrika Barat telah melewati kota itu dalam perjalanannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Mansa Musa menimbulkan kegemparan besar dengan pameran harta kekayaannya yang berlimpah ruah, bekal perjalanan haji dari negeri asalnya yang kaya akan emas. Meskipun Ibnu Batutah tidak pernah meriwayatkan kunjungan yang menggemparkan itu secara khusus, mungkin saja kisah kunjungan Mansa Musa inilah yang telah menyemai minat di dalam hatinya untuk berkelana melintasi Sahara menuju kerajaan-kerajaan Muslim di seberang gurun raksasa itu.

 

Mali dan Timbuktu

 

Madrasah Sankore di Timbuktu, Mali

Pada musim gugur 1351, Ibnu Batutah berangkat dari Fez menuju Kota Sijilmasa di tepi utara Gurun Sahara, yang kini berada dalam wilayah negara Maroko.[125] Di Sijilmasa, ia membeli beberapa ekor unta dan tinggal selama empat bulan. Ia berangkat bersama serombongan kafilah pada bulan Februari 1352, dan setelah melakukan perjalanan selama 25 hari, ia tiba di padang garam Taghaza dan melihat sendiri tambang-tambang garamnya. Semua bangunan di tempat itu dibuat dari lempeng-lempeng garam oleh budak-budak suku Masufa, yang memotong bongkahan garam menjadi lempeng-lempeng tebal untuk diangkut dengan unta. Meskipun kala itu Taghaza adalah sebuah pusat niaga dan dibanjiri emas dari Mali, Ibnu Batutah sama sekali tidak terkesan, dan malah meriwayatkan bahwa tempat itu penuh lalat lagi payau airnya.[126]

 

Setelah tinggal selama sepuluh hari di Taghaza, rombongan kafilah melanjutkan perjalanan menuju oasis di Tasarahla (mungkin Bir Al-Ksaib),[127][g] tempat kafilah beristirahat selama tiga hari sebelum melakukan perjalanan yang terakhir sekaligus tersulit menyeberangi Gurun Sahara. Dari Tasarahla, seorang pandu Masufa diutus terlebih dahulu ke Kota Oasis Oualata guna mempersiapkan bekal air yang akan diangkut menempuh jarak sejauh empat hari perjalan menuju tempat pertemuan dengan kafilah yang membutuhkannya sebagai pelepas dahaga. Oualata adalah pos paling selatan di jalur niaga lintas-Sahara, dan belum lama menjadi bagian dari wilayah Kemaharajaan Mali. Secara keseluruhan, rombongan kafilah itu menghabiskan waktu selama dua bulan untuk melakukan perjalanan lintas gurun sejauh 1.600 km (990 mil) dari Sijilmasa.[128]

 

 

Kafilah garam Azalai dari Agadez menuju Bilma

Dari tempat itu, Ibnu Batutah melakukan perjalanan ke arah barat daya, menyusuri tepian sebuah sungai yang ia sangka Sungai Nil (sebenarnya adalah Sungai Niger), sampai ke ibu kota Kemaharajaan Mali.[h] Di ibu kota, ia berjumpa dengan Mansa Sulaiman, yang naik takhta pada 1341. Ibnu Batutah tidak senang melihat biti-biti perwara, dayang-dayang, bahkan putri-putri sultan, tidak menutup seluruh aurat mereka selayaknya Muslimah yang baik.[130] Ia meninggalkan ibu kota pada bulan Februari, ditemani seorang saudagar pribumi Mali, dan melakukan perjalanan dengan mengendarai unta menuju Timbuktu.[131] Meskipun dua abad kemudian telah berkembang menjadi kota terkemuka di kawasan itu, Timbuktu masih berupa sebuah sebuah kota kecil dan tidak begitu penting sewaktu dikunjungi Ibnu Batutah.[132] Dalam perjalanan ke Timbuktu inilah Ibnu Batutah untuk pertama kalinya melihat kuda nil. Satwa ini ditakuti oleh tukang-tukang perahu pribumi, dan diburu dengan menggunakan lembing yang pada pangkalnya terikat seutas tambang yang kuat.[133] Setelah tinggal tak seberapa lama di Timbuktu, Ibnu Batutah melakukan perjalan menyusui Sungai Niger menuju Gao dengan menaiki perahu kecil yang terbuat dari sebatang pohon utuh. Kala itu Gao adalah sebuah pusat niaga yang penting.[134]

 

Setelah sebulan lamanya tinggal di Gao, Ibnu Batutah berangkat bersama serombongan besar kafilah menuju Oasis Takedda. Dalam perjalanan melintasi padang gurun, turun titah dari Sultan Maroko agar ia kembali ke kampung halamannya. Ibnu Batutah bertolak menuju Sijilmasa pada bulan September 1353, bersama serombongan besar kafilah yang membawa 600 orang budak perempuan, dan tiba di Maroko pada awal tahun 1354.[135]

 

Riwayat pengembaraan Ibnu Battutah memberikan sekilas gambaran bagi para pengkaji mengenai zaman ketika agama Islam baru mulai menyebar ke jantung kawasan Afrika Barat.[136]

 

Ar-Rihlah Ibnu Batutah

Lihat pula: Rihlah

 

Situs yang diduga sebagai makam Ibnu Batutah, terletak di dalam sebuah rumah di Madinat Tanjah (Kota Tanjah)

Setelah pulang ke kampung halaman pada 1354, atas anjuran Sultan Abu Inan Faris, penguasa Maroko dari Bani Marin, Ibnu Batutah meriwayatkan petualangan-petualangannya kepada Ibnu Juzay, seorang alim yang pernah ia jumpai di Granada. Riwayat yang disusun oleh Ibnu Juzay inilah satu-satunya sumber informasi tentang petualangan-petualangan Ibnu Batutah. Judul lengkap dari naskah yang disusun oleh Ibnu Juzay ini adalah Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib (bahasa Arab: تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار, Tuḥfatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār),[3][i] namun sering kali hanya disebut Lawatan (bahasa Arab: الرحلة, Ar-Rihlah).[4] Ar-Rihlah sebenarnya adalah sebutan bagi salah satu ragam baku dari karya tulis dalam sastra Arab.

 

Tidak ada indikasi bahwa Ibnu Batutah mencatat sendiri pengalaman-pengalaman selama dua puluh sembilan tahun bertualang.[j] Manakala meriwayatkan kembali petualangan-petualangannya untuk dicatat oleh Ibnu Juzay, Ibnu Batutah hanya mengandalkan ingatannya, dibantu naskah-naskah yang dihasilkan oleh para musafir terdahulu. Ibnu Juzay tidak menyebutkan sumber-sumber rujukannya, dan menyajikan sejumlah keterangan yang dikutip dari naskah-naskah lain seakan-akan ia dengar langsung dari mulut Ibnu Batutah. Manakala menuliskan uraian tentang Damaskus, Mekah, Madinah, dan beberapa tempat lain di Timur Tengah, ia jelas-jelas menyalin ayat-ayat dari catatan musafir Andalusia, Ibnu Jubair, yang ditulis lebih dari 150 tahun sebelumnya.[139] Demikian pula sebagian besar uraian Ibnu Juzay tentang tempat-tempat di Palestina sebenarnya disalin dari catatan perjalanan seorang musafir abad ke-13 yang bernama Muhammad Al-Abdari.[140]

 

Para pengkaji tidak percaya bahwa Ibnu Batutah benar-benar pernah berkunjung ke tempat-tempat yang diriwayatkannya. Mereka berpendapat bahwa Ibnu Batutah mengandalkan kabar angin dan mengutip riwayat-riwayat perjalanan para musafir terdahulu dalam menyajikan gambaran komprehensif dari tempat-tempat di Dunia Islam. Sebagai contoh, sangat mustahil Ibnu Batutah melakukan perjalanan memudiki Sungai Volga dari Kota Sarai Baru menuju Bolgar,[141] dan sejumlah perjalanan lain yang ia riwayatkan sangat diragukan kebenarannya, misalnya perjalanan ke Kota Sana di Yaman,[142] perjalanan dari Balkh menuju Bistam di Khorasan[143] dan perjalanan keliling Anatolia.[144] Riwayat Ibnu Batutah tentang seorang tokoh Magribi bernama "Abu Al-Barakat Si Orang Berber" yang menyebarkan agama Islam di Maladewa bertentangan dengan riwayat dalam "Tarikh", catatan sejarah resmi Maladewa, bahwasanya masyarakat Maladewa masuk Islam setelah menyaksikan mukjizat yang diperbuat oleh seorang tokoh Tabrizi bernama Maulana Syekh Yusuf Syamsudin.[145] Beberapa pengkaji juga malah meragukan apakah ia benar-benar pernah berkunjung ke Tiongkok.[146] Seluruh pengalaman dan penggambaran tentang Negeri Tiongkok mungkin saja dijiplak Ibnu Batutah dari karya-karya pujangga lain seperti "Masalikul Absar fi Mamalikul Amsar" karya Syihab Al-Umari, karya tulis Sulaiman At-Tajir, dan mungkin pula dari karya-karya Al-Juwaini, Rasyidudin, dan dari salah satu hikayat Aleksander Agung. Selain itu, riwayat Ibnu Batutah dan catatan perjalanan Marco Polo memiliki kemiripan bagian dan tema, bahkan beberapa ulasannya pun mirip. Agaknya mustahil pula bahwasanya ada seorang tokoh dengan nama yang persis sama dengan nama khalifah ketiga, yakni Utsman bin Affan, pernah bertemu dengan Ibnu Batutah di Negeri Tiongkok, sebagaimana yang diriwayatkannya.[147] Namun andaikata tidak sepenuhnya disusun berdasarkan pengalaman pribadinya, Ar-Rihlah Ibnu Batutah tetap saja merupakan sebuah karya tulis yang berisi keterangan-keterangan penting mengenai keadaan dunia pada abad ke-14.

 

Ibnu Batutah sering kali mengalami guncangan budaya di negeri-negeri yang ia kunjungi, manakala adat-istiadat dari masyarakat pribumi yang baru saja masuk Islam tidak selaras dengan adab masyarakat Muslim ortodoks yang telah mendarah daging dalam dirinya. Ketika berada di tengah-tengah masyarakat Turki dan Mongol, ia takjub melihat kebebasan dan penghormatan yang dinikmati kaum perempuan. Ia mengungkapkan pendapatnya dalam Ar-Rihlah bahwa bilamana melihat sepasang suami istri Turki di sebuah bazar, orang akan keliru menyangka bahwa si lelaki adalah pelayan si perempuan, bukan suaminya.[148] Ia juga merasa bahwa bahwa cara berbusana di Maladewa dan beberapa kawasan Sub-Sahara di Afrika terlalu terbuka.

 

Sedikit saja yang diketahui orang tentang riwayat hidup Ibnu Batutah seusai Ar-Rihlah rampung ditulis pada 1355. Ia diangkat menjadi kadi di Maroko, dan wafat pada 1368 atau 1369.[149]

 

Ar-Rihlah Ibnu Batutah baru dikenal orang di luar Dunia Islam pada permulaan abad ke-19, manakala musafir sekaligus penjelajah Jerman yang bernama Ulrich Jasper Seetzen (1767–1811) mendapatkan sekumpulan naskah di Timur Tengah, di antaranya terdapat sejilid naskah sepanjang 94 halaman berisi salah satu versi ringkas dari Ar-Rihlah Ibnu Batutah yang disusun oleh Ibnu Juzay. Tiga saduran diterbitkan pada 1818 oleh orientalis Jerman, Johann Kosegarten.[150] Saduran keempat diterbitkan setahun kemudian.[151] Para pengkaji Prancis mengetahui kabar tentang penerbitan perdana ini melalui ulasan bedah buku yang dimuat panjang lebar dalam Journal de Savants oleh orientalis Prancis, Silvestre de Sacy.[152]

 

Tiga naskah salinan Ar-Rihlah Ibnu Batutah versi ringkas didapatkan oleh musafir Swiss, Johann Burckhardt, dan dihibahkan kepada Universitas Cambridge. Johann Burckhardt menulis sebuah prakata singkat mengenai isi naskah-naskah itu dalam sebuah buku yang baru terbit pada 1819, sesudah ia wafat.[153] Naskah Ar-Rihlah Ibnu Batutah dalam bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh orientalis Samuel Lee, dan diterbitkan di London pada 1829.[154]

 

Pada era 1830-an, semasa pendudukan Prancis di Aljazair, Bibliothèque nationale de France (BNF) di Paris mendapatkan lima naskah Ar-Rihlah Ibnu Batutah, dua di antaranya dalam kondisi utuh.[k] Salah satu naskah yang hanya memuat paruh kedua dari keseluruhan isi Ar-Rihlah, diperkirakan berasal dari tahun 1356, dan diyakini ditulis oleh Ibnu Juzay sendiri.[159] Naskah-naskah BNF digunakan pada 1843 oleh orientalis Irlandia-Prancis, Baron de Slane, untuk menghasilkan sebuah terjemahan ke dalam bahasa Prancis dari riwayat kunjungan Ibnu Batutah ke Sudan.[160] Naskah-naskah ini juga diteliti oleh para ilmuwan Prancis, Charles Defrémery dan Beniamino Sanguinetti. Sejak 1853, mereka menerbitkan serangkaian karya tulis yang terdiri atas empat jilid berisi ulasan hasil kajian atas teks Arab dari Ar-Rihlah Ibnu Batutah dilengkapi sebuah terjemahannya ke dalam bahasa Prancis.[161] Dalam prakata mereka, Defrémery dan Sanguinetti memuji catatan-catatan penjelasan yang dibuat Samuel Lee, namun mengkritik hasil terjemahannya yang menurut mereka tidak begitu tepat, bahkan kalimat-kalimat yang lugas sekalipun pada pandangan mereka tidak diterjemahkan dengan tepat.[l]

 

Pada 1929, tepat seabad sejak karya terjemahan Samuel Lee diterbitkan, sejarawan dan orientalis Hamilton Gibb menerbitkan sebuah terjemahan ke dalam bahasa Inggris atas bagian-bagian tertentu dari teks Arab yang termuat dalam karya tulis Defrémery dan Sanguinetti.[163] Hamilton Gibb pernah menawarkan jasa kepada Hakluyt Society pada 1922 untuk menyusun sebuah karya terjemahan dari keseluruhan Ar-Rihlah ke dalam bahasa Inggris disertai catatan-catatan penjelasan.[164] Teks hasil terjemahannya akan ia bagi menjadi empat jilid buku, masing-masing jilid ini memuat bagian yang sama dengan yang dimuat dalam jilid-jilid buku karya Defrémery dan Sanguinetti. Jilid pertama baru terbit pada 1958.[165] Hamilton Gibb wafat pada 1971, setelah merampungkan tiga jilid pertama. Jilid keempat susun oleh Charles Beckingham, dan diterbitkan pada 1994.[166] Cetakan karya terjemahan Defrémery dan Sanguinetti kini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa lain.



Sumber : DISINI

۞ PETA LOKASI MA. Kabeloa Alkhairaat ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞